Minggu, 27 Februari 2011

HADIS DITINJAU DARI KWALITAS PERIWAYATANNYA



BAB I
PENDAHULUAN


Seperti yang kita ketahui bersama dulu pada zaman nabi Muhammad SAW. Para sahabat dilarang menulis sesuatu (hadis) selain al-quran, akan tetapi banyak para ulama menulis hadis secara pribadi dalam sahipah-sahifah  dengan sembunyi-sembunyi sebagai koleksi sendiri. Tetapi tidk semua hadis tersebut dibukukan.

Pembukuan hadis baru di mulai pada awal abad ke -3 hijriah pada masa pemerintahan Umar Ibn Abdul Aziz. Rentang waktu tersebut kemungkinan terjadinya pemalsuan hadis, dan dengan dasar inilah para orentalis tidak percaya apakah hadis memang dari nabi ataukah tidak. Contohnya pemikir orentalis, Ignas Goldziner dan Josep Schacht beranggapan bahwa hadis bukan dari nabi sendiri tetapi hadis merupakan produk para ulama abad ke-2 atau ke-3hdijriah. Apa yang dikatakan oleh kedua orentalis itu di bantah oleh MM. Azmi dalam disertasinya, dan meruntuhkan tesis kedua orentalis tersebut dengan membuktikan sejumlah kelemaha argument yang mereka gunakan.

            Maka dengan dasar inilah penulis beranggapan bahwa kalau pada zaman dahulu ada orentalis apalagi sekarang karena yang namanya orentalis sudah jelas musuh kita sebagai umat islam. Dulu islam mau di runtuhkan dengan perang tetapi sekarang lebih parah lagi, islam dilawan dengan pemikiran sehingga banyak hadis palsu. Maka dalam makalah ini  penulis mencoba untuk mengkaji bagaimana para ulama  mengklasifikasikan apakah hadis hadis tersebut berkwalitas  dan dapat di amalkan  atau tidak karena di setiap hadis mempunyai tingkat kehujjahan masing-masing tetapi dalam pembahasan makalah ini penulis mengangkat judul hadis yang di tinjau dari kwalitas periwayatanya. Untuk lebih jelasnya mari kita cermati isi makalah ini supaya kita paham tentang kehujjahan suatu hadis ( apakah benar-benar dari nabi atau kah palsu) yang kita terima dari ustaz maupun buku yang kita baca.
  


BAB II
PEMBAHASAN

HADIS DITINJAU DARI KWALITAS PERIWAYATANNYA
           
Berdasrkan pungsinya, hadis dapat di bagi  dalam dua kelompok besar, yaitu  hadis yang di terima (makbul), yaitu hadis yang sohih dan hadis yang di tolak (mardud) yaitu hadis doif. Di antara ulama hadis ada yang membagi hadis dalam tiga bagian, yaitu sohih, hasan, dan doif. Oleh karena itu setiap hadis yang ada tidak pernah lepas ari pengelompokan kwalitas periwayatanya dariketiga bentuk hadis tersebut.
           
Di antara ulama ternyata masih memperselisihkan nilai kehujjahan hadis hasan. Apakah hadis hasan tersebut masuk dalam kedua kategori pembagian hadis diatas.
Pendapat pertama mengatakan hadis hasan termasuk kedalam kategori soheh  dan doif. Al- Zahabi yang mengutip pendapat bukhori dan muslim menyatakan bahwa hadis hasan masuk kedalam katgori sohih. Dan ada kalanya ulama memasukkan hais hasan kedalam kategori doif yang tida dapat begitu saja di amalkan. Namun pendapat Ahmad ibn Hambal  pemakaian hadis doif termasuk di perbolehkan dan lebih baik ketimbang qiyas ( dalil analogi).
Pendapat kedua  bahwa hadis hasan adalah otonom, tidak termasuk hadis soheh maupun hadis hasan tetapi nilainya lebih ketimbang hadis doif. Adapun  hadis maudu  ( upauya mengada-adakan tentang rasullah saw. Atau sahabat  atu tabi’in ) tidak mauk dalam pembagian hadis tersebut. Hal itu di karenakan hadis maudu tidak masuk dalam kategori hadis karena diada-adakan.

Pembagian atas hadis ketiga  tersebut  sangat banyak sekali. Ada pembagian hadis hadis berdasarkan ketiga hal tersebut seara mandiri yakni berinduk pada hadis sohIh, hasan, dan do’if. Dmikian juga ada yang mengelompokkankannya  seara bersamaan. [1]      
         
            Di antara ulama ada yang menyebutnya sebagai suatu ilmu khusus dan ada juga yang menilainya hanya sebagai jenis atau cabang dari keilmuan. Jumlah atau ragam keilmuan atau hal yang terkait dengannya banyak sekali dan tidak terhitung lagi.oleh karena itu tidaklah heran kalau al-hazmi mengatakan bahwa jumlahnya mencapai ratusan dan masing-masing jenis merupakan ilmu sendri.
Baiklah kita akan masuk ke uraian-uraian dari hadis diatas.
A.    HADIS SOHIH
kata Shohih dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata as-saqim orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat.[2]
Menurut ibnu salah yang dimaksud dengan hadis soheh adalah hadis yang sanadnya bersambun, diriwayatkan oleh periwayat yang adil dan dabid dari awal hingga akhir sanadnya serta tidak ada siyaz dan tidak ada illat.[3]
Sedangkan menurut  Subhi al-Salih memberikan pengertian hadis soheh adakah hadis yang sanadnya bersambung dikutip oleh periwayat yang adil dan cermat dari orang-orang yang sama sampai berakhir pada rasulullah saw. Atau sahabat dan tabiin bukan hadis yang syaz dan tidak ada illat.
 Hal ini di ringkas pleh imam al nawawi mengatakan hadis soheh adalah hadis yang sanadnya bersambung adil dobid tdkada syaz dan tidak ada illat[4].
Dari beberapa istilah tersebut penulis mencoba menyimpulkan bawwqa hadis soheh adalah yang sanadnya bersambung di riwayatkan aleh periwayat yang adil dan dobid sampai akhir sanad, tidak terdapat kejanggalan dan kecacatan (syaz dan illat )
contoh;
Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata; Aku mendengar ayahku berkata; Aku mendengar Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw berdo’a ; Ya Allah, aku memohon kepada-Mu perlindungan dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut dan dari kepikunan, dan aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah (ujian) di masa hidup dan mati, dan memohon kepada-Mu perlindungan dari adzab di neraka

Hadis tersebut di atas telah memenuhi persyaratan sebagai hadis sahih, karena.
1.      Ada sanadnya hingga kepada Rasulullah saw.
2.      Ada persambungan sanad dari awal sanad hingga akhirnya. Anas bin Malik adalah seorang shahabat, telah mendengarkan hadis dari nabi saw. Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), telah menya-takan menerima hadis dengan cara mendengar dari Anas. Mu’tamir, menyatakan menerima hadis dengan mendengar dari ayahnya. Demikian juga guru al-Bukhari yang bernama Musaddad, ia menyatakan telah mende-ngar dari Mu’tamir, dan Bukhari -rahimahullah- juga menyatakan telah mendengar hadis ini dari gurunya.
3.      Terpenuhi keadilan dan kedhabitan dalam para periwayat di dalam sanad, mulai dari shahabat, yaitu Anas bin Malik ra hingga kepada orang yang mengeluarkan hadis, yatu Imam Bukhari
a. Anas bin Malik ra, beliau termasuk salah seorang shahabat Nabi saw, dan semua shahabat dinilai adil.
b. Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), dia siqah abid (terpercaya lagi ahli ibadah).
c. Mu’tamir, dia siqah
d. Musaddad bin Masruhad, dia siqah hafid.
e. Al-Bukhari –penulis kitab as-Shahih-, namanya adalah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, dia dinilai sebagai jabal al-hifdzi (gunungnya hafalan), dan amirul mu’minin fil hadis.
4.      Hadis ini tidak syadz (bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat)
5.      Hadis ini tidak ada illah-nya
`Dengan demikian jelaslah bahwa hadis tersebut telah memenuhi syarat-syarat hadis sahih, Karena itulah Imam Bukhari menampilkan hadis ini di dalam kitabnya ash-Shahih.
Dari pengertian diatas bahwa kriteria hadits shahih ada lima syarat:
a). muttasil sanadnya (ittisal as-sanad) artinya setiap hadits yang yang diriwayatkan oleh rowi tali –temali, sehingga sambung dalam penerimaan haditsnya kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, akan mengecualikan hadits yang munqoti', muaddlol, mua’llaq dan mursal.
b). Perawinya Bersifat Adil
Maksudnya adalah tiap-tiap perowi itu seorang Muslim, bersetatus Mukallaf  (baligh), bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya.[5]
Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut:
1.       keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil,  sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa at-ta’dil.
2.      ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil, sdeperti imam empat Hanafi,Maliki, Asy-Syafi’i, dan Hambali.
khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat, jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fasiq, dan periwayatannya pun ditolak.
c). Perowinya Bersifat Dhobith
Maksudnya masing-masing perowinya sempurna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan).
Dhobith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan, sejak ia maneriama hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain, sedang, dhobith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan.
Adapun sifat-sifat kedhobitan perowi, nmenurut para ulama, dapat diketahui melalui:
  1. kesaksian para ulama
  2. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhobithannya.
d). Hadits yang diriwayatkan bukan termasuk kategori hadits yang syadz
e). Hadits yang diriwayatkan harus terbebas dari illat (cacat) yang dapat menyebabkan kualitas hadits menjadi turun.
Hadits shahih terbagi menjadi dua;[6]
a). Shohih lidzatihi
Shohih lidzatihi adalah sebuah hadits yang mencakup semua syarat hadits shahih dan tingkatan rowi berada pada tingkatan pertama. Sehingga apabila sebuah hadits telah ditelaah dan telah memenuhi syarat di atas, akan tetapi tingkatan perowi hadits berada pada tingkatan kedua maka hadits tersebut dinamakan hadits Hasan.
b) Shohih lighoirihi
Hadits ini dinamakan lighoirihi karena keshahihan hadits disebabkan oleh sesuatu yang lain. Dalam artian hadits yang tidak sampai pada pemenuhan syarat-syarat yang paling tinggi. Yakni dlobid seorang rowi tidak pada tingkatan pertama. Hadits jenis ini merupakan hadits hasan yang mempunyai beberapa penguat. Artinya kekurangan yang dimiliki oleh hadits ini dapat ditutupi dengan adanya bantuan hadits, dengan teks yang sama, yang diriwayatkan melalui jalur lain.[7]
Menurut Ibnu Sholah memberi alasan karena pada Muhammad bin Amr bin al-Qomah termasuk orang yang lemah dalam hafalan,.kekuatan, ingatan dan juga kecerdasanya, Akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan jalur lain, yaitu oleh al A'raj bin Humuz dan sa'id al Maqbari maka bias dikategorikan shohih lighirihi.
Cara mengukur keshohihan hadits..
Untuk mengetahui suatu hadits itu apakah shahih atau tidak, kita bisa melihat dari beberapa syarat yang telah tercantum dalam sub yang menerangkan hadits shahih. Apabila dalam syarat-syarat yang ada pada hadits shahih tidak terpenuhi, maka secara otomatis tingkat hadits itu akan turun dengan sendirinya. Semisal kita meneliti sebuah hadits, kemudian kita temukan salah satu dari perawi hadits tersebut dalam kualitas intelektualnya tidak sempurna. Dalam artian tingkat dlabidnya berada pada tingkat kedua (lihat tingkatan dlabid pada bab hadits shahih), maka dengan sendirinya hadits itu masuk dalam kategori hadits shohih lighoirihi. Dan apabila ada sebuah hadits yang setelah kita teliti kita tidak menemukan satu kelemahanpun dan tingkatan para perawi hadits juga menempati posisi yang pertama , maka hadits itu dikatakan sebagai hadits shahih lidatihi.
Untuk hadits shohih lighoirihi kita bisa merujuk pada ketentuan-ketentuan yang termuat dalam pengertian dan kriteria-kriteria hadits hasan lidatihi. Apabila hadits itu terdapat beberapa jalur maka hadist itu akan naik derajatnya menjadi hadits shohih lighoirihi. Dengan kata lain kita dapat menyimpulkan apabila ada hadits hasan akan tetapi hadits itu diriwayatkan oleh beberapa rawi dan melalui beberapa jalur, maka dapat kita katakan hadits tersebut adalah hadits shohih lighoirihi.
Adapun derajat hadist hasan sama dengan hadist shahih dalam segi kehujjahannya, sekalipun dari sisi kekuatannya berada di bawah hadist shahih. Oleh karena itu mayoritas Fuqaha, Muhaditsin dan Ushuliyyin (ahli Ushul) berpendapat bahwa hadist hasan tetap dijadikan sebagai hujjah dan boleh mengamalkannya.
Pendapat berbeda datang dari kelompok ulama Al-Mutasyaddidun (garis keras) yang menyatakan bahwa hadist hasan tidak ada, serta tidak dapat dijadikan hujjah. Sementara ulama Al-Mutasahilun (moderat) seperti al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dll justru mancantumkannya ke dalam jenis hadist yang bisa dijadikan sebagai hujjah walupun tingkatannya dibawah hadits sahih. [8]
 Ashahhul asanid (sanad-sanad paling shohih)
Para ulama’ berusaha keras mengkomparasikan antar perwi-pwrwi yang maqbul dan mengetahui sanad –sanad yang memuat drajat diterima secara maksimal kerena perawinya terdiri dari orang –orang terkenal dengan keilmuan, kedhobitan dan keadilannya dengan yang lainnya. Mereka menilai bahwa sebagian sanad shahih merupakan tingkat tertinggi dari pada sanad lainnya,karena memenui syarat syarat maqbul secara maksimal dan kesempurnaan para perowinya dalam hal kreteri-kereterianya. Mereka kemudian menyebutnya ashahhul asnid. Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama’ mengenai hal itu. Sebagian mengatakan, ashahhul asanid adalah :
1. Riwayat ibn syibah az-zuhriy dari salim ibn abdillah ibn umar dari ibn umar.
2. Sebagian lain mengatakan, ashahhul asanid adalah riayat sulaiman al-A’masi dari Ibrahim an-nakha’iy dari ‘Al qomah ibn Qois Abdullah ibn mas’ud.
3. Imam bukhari dan yang lain mengatakan, sahahhul asnid adalah riwayat imam malaik ibn anas dari nafi’ maula ibn umar dari ibn umar. Dan karena imam asy-syafi’Iy merupakan orang yang paling utama yang meriwayatkan dari imam malik, dan imam ahmad merupakan orang yang paling utama yang meriwayakan dari imam syafi’iy,maka sebagian ulama’ muta’akhirin cenderung menilai bahwa ashahhul asanid adalah riwayat imam ahmad dari imam syafi’I dari imam malik dari nafi’ dari ibn umar ra.inilah yang disebut dengan silsilah adz- dzahab (rantai emas).[9]
Untuk memudahkan mengetahui ashahhul asanid dan meredam silang dikalangn ulama’ mengenai hal ini, maka abu abdillah al-hakim mamandang perlu menghususkannya dengan sahabat tertentu atau negeri tertentu.

B.     HADIS HASAN
Secara bahasa, hasan berarti al-jamal, yaitu indah. Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if, dan juga karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya. Sebagian dari definisinya yaitu:
  1. definisi al- Chatabi: adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya, dan telah mashur rawi-rawi sanadnya, dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis, dan yang diterima kebanyakan ulama, dan yang dipakai oleh umumnya fukoha
  2. definisi Tirmidzi: yaitu semua hadis yang diriwayatkan, dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta, serta tidak ada syadz (kejangalan), dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian, maka dia menurut kami adalah hadis hasan.
  3. definisi Ibnu Hajar: beliau berkata, adalah hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil, sempurna ke-dhabit-annya, bersanbung sanadnya, tidak cacat, dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi, lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi.
Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabit-annya. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabit-annya dibandingkan dengan hadis hasan. Tetapi jika dibandingkan dengan ke-dhabit-an perawi hadis dha’if tentu belum seimbang, ke-dhabit-an perawi hadis hasan lebih unggul.
Macam-Macam Hadis Hasan
Sebagaimana hadis shahih yang terbagi menjadi dua macam, hadis hasasn pun terbagi menjadi dua macam, yaitu hasan li-dzatih dan hasan li-ghairih;[10]
a. Hasan Li-Dzatih
Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan yang telah ditentukan. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.
b. Hasan Li-Ghairih
Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. dengan kata lain, hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if, akan tetapi karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’), maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih.
Kehujahan Hadis Hasan
Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih, meskipun derajatnya dibawah hadis shahih, adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal. Paraulama hadis, ulama ushul fiqih, dan fuqaha sepakat tentang kehujjahan hadis hasan.[11]
Contoh hadist hasan, yang artinya :
Dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi Saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakratul maut)". (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Tirmizi. Ia berkata: hadits ini hasan.)
Hadist ini telah dikatakan oleh Turmudzi sendiri: “ hadits ini hasan ”
Kedudukan hadist hasan
Para ulama sepakat memandang bahwa tingkatan hadist hasan berada sedikit dibawah tingkatan hadist sahih, tetapi mereka berbeda pendapat tentang kedudukannya sebagai sumber ajaran Islam atau sebagai hujjah. Masyarakat ulama memperlakukan hadist hasan seperti hadist sahih. Mereka menerima hadist hasan sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam, baik dalam bidang hukum, moral, maupun aqidah. Tetapi sebagian ulama menolak hadist hasan sebagai hujjah dalam bidang hukum apalagi dalam bidang aqidah.
C.    HADIST DHAIF
Pengertian hadits dhaif Secara bahasa, hadits dhaif berarti hadits yang lemah. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih, dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadits hasan”.
Macam-macam hadits dhaif
Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya, dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan.
a. hadits dhaif karena gugurnya rawi
Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi, yang seharusnya ada dalam suatu sanad, baik pada permulaan sanad, maupun pada pertengahan atau akhirnya. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi, antara lain yaitu :
b. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi
Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya.
Kehujahan Hadits dhaif[12]
Khusus hadits dhaif, maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan, dengan beberapa syarat:
  1. Level Kedhaifannya Tidak Parah
Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan.
Maka menurut para ulama, masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah, asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah, boleh digunakan untuk perkara fadahilul a’mal (keutamaan amal).
  1. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih
Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a’mal, harus didampingi dengan hadits lainnya. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih.
  1. Ketika Mengamalkannya, Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabit-annya
Maksudnya, ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu, kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW.
            Pandangan  Ulama Terhadap Hadits Dhaif [13]:
Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif, sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Dan menariknya, mereka itu bukan orang sembarangan. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis.
Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. Sebab dibandingkan dengan mereka, kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits.
1)      Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif
Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan, ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir.
Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. Baik masalah keutamaan (fadhilah), kisah-kisah, nasehat atau peringatan. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Pendeknya, tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka.
Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Bakar Al-Arabi, Yahya bin Mu’in, Ibnu Hazm dan lainnya. Di zaman sekarang ini, ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya.
2)      Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif
Jangan salah, ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadits dhaif. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif, asal bukan hadits palsu (maudhu’). Bagi mereka, sedhai’f-dha’if-nya suatu hadits, tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika.
Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud, Ibnul Mahdi, Ibnul Mubarok dan yang lainnya.
Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata, ‘Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram, kami ketatkan. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya, kami longgarkan.”
3)      Kalangan Menengah
Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Mereka adalah kebanyakan ulama, para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf.
Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain, sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah, adalah:
• Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta, atau tertuduh sebagai pendusta, atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima.
• Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya
• Hadits itu hanya seputar masalah nasehat, kisah-kisah, atau anjuran amal tambahan. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah, juga bukan masalah hukum.
• Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu, melainkan hanya sekedar berhati-hati.[14]
Semua keterangan di atas, jelas bukan pendapat kami. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. Sebab beda maqam dan beda posisi.






BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
*Hadits shahih lebih sempurna dari pada hadits hasan, karna hadits shahih para perwinya adil,sanadnya bersambung sampai Rosulullah, sempurna hafalannya, kuat ingatannya, tidak janggal dan tidak ada cacat. Sedangkan hadits hasan, bedanya sedikit dengan shahih yaitu: lemah hafalannya tapi yang lain sama.
*Meskipun hadits hasan kududukannya dibawah hadits shahih tapi para ulama’ berhujjah bahwa hadits hasan beleh dijadikan sebagai sandaran hukum islam, dalam moral dan aqidah. Pada materi hadits ini, dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya.
 “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. YĆ»suf [12]: 21)
Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits  (terlebih hadits dhaif ), maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. Karena sesungguhnya Allah SWT. berfirman :

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi kebenaran”.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3)
Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian; karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebab-sebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif, baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ), sanad, maupun matannya.
Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ), tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap, termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja.
















DAFTAR PUSTAKA

Oktoberrinsyah, (dkk), Al-Hadis. yogyakarta: pokja akademik uin sunan kalijaga,2005
Khon, Abdul Majid, Ulumul Hadis. Jakarta: Ahzam, 2008
Thohan, Mahmud, ulumul hadis studi kompleksitas hadis nabi. Yogyakarta: Titian Ilahi Pres.1997
An-Nadwi, H. Fadlil Sa’id,1420H.  Ilmu Mustholah Hadits. Surabaya: Al-Hidayah,
Ahmad,  Muhammad. Mudzakkir, Ulumul Hadits. Bandung Pustaka Setia.2004.
 Ajaj, Muhammad Al-Khotib, Ushul al-Hadits.  Jakarta: Gaya Media Pratama.2001.

kholis, Nur. pengantar studi al qur’an dan hadis.Yogyakarta:Teras.2008.   
                                                                                          


[1] Muhammad , Usul al-Hadis (Dar al Fikr, 1989).hal  304
[2]  Muhammad , Usul al-Hadis.hal 304
[3] Nur kholis, pengantar studi al qur’an dan hadis.(Yogyakarta:Teras,2008.)   
[4] Oktoberrinsyah, (dkk) Al-Hadis,(yogyakarta: pokja akademik uin sunan kalijaga,2005) hal.113
[5] Fadlil Sa’id An-Nadwi, Ilmu Mustholah Hadits, (Al-Hidayah : Surabaya).hal. 102

[6] Muhammad Ajaj Al-Khotib, Ushul al-Hadits,(Gaya Media Pratama : Jakarta, 2001)hal.56

[7]Muhammad Ahmad-Drs. H. Mudzakkir, Ulumul Hadits, (Pustaka Setia : Bandung,2004)Hal. 75
               
[8] Fadlil Sa’id An-Nadwi, Ilmu Mustholah Hadits, (Al-Hidayah : Surabaya).hal. 45
[9] Muhammad Ajaj Al-Khotib, Ushul al-Hadits,(Gaya Media Pratama : Jakarta, 2001)hal.56
[10] Muhammad Ajaj Al-Khotib, Ushul al-Hadits hal.57
[11] Fadlil Sa’id An-Nadwi, Ilmu Mustholah Hadits, (Al-Hidayah : Surabaya).hal. 47

[12] Fadlil Sa’id An-Nadwi, Ilmu Mustholah Hadits.hal. 49
[13] Fadlil Sa’id An-Nadwi, Ilmu Mustholah Hadits hal49

[14] Muhammad Ajaj Al-Khotib, Ushul al-Hadits,(Gaya Media Pratama : Jakarta, 2001)hal.58

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut